Kisah Nabi Musa As Dan Fir’aun (2)
Sekitar sepuluh tahun lamanya Musa tinggal di Madyan, menjadi menantu Nabi Syu’aib, dan selama itu pula Musa menggembalakan ternak-ternak Nabi Syu’aib sebagai ‘mahar’ dari pernikahannya dengan putri beliau. Nabi Syu’aib memberi Musa sebuah tongkat untuk melaksanakan tugas penggembalaannya. Sebagian riwayat menyebutkan, tongkat tersebut berasal dari kayu surga, dan milik para Nabi secara turun temurun, yakni sejak Nabi Adam hingga kepada Nabi Syu’aib. Setelah selesai masa sepuluh tahun itu, Musa meminta ijin kepada mertuanya untuk kembali ke Mesir, menemui dan berkumpul kembali dengan orang tua dan keluarganya yang lain. Nabi Syu’aib mengijinkannya.
Musa bersama keluarganya meninggalkan Madyan menuju Mesir, tanah kelahiran dan tempat tinggal kaumnya Bani Israil. Al Qur’an menyebutkan ‘bi-ahlihii’, yang bisa diartikan hanya bersama istrinya, berdua saja sebagai musafir. Atau bisa juga bersama anggota keluarganya yang lain, yang salah satunya adalah Harun. Tetapi riwayat lain menyebutkan Harun adalah saudaranya yang masih tinggal di Mesir. Ketika melarikan diri dari Mesir, Musa memerlukan waktu delapan hari perjalanan terus-menerus sebelum sampai di Madyan. Tentunya saat kembali itu akan memerlukan waktu lebih lama lagi, karena beliau bersama keluarga dan situasinya tidak sedang dikejar-kejar seperti sebelumnya.
Suatu malam, rombongan tersebut berada di lereng bukit Thursina. Musa melihat suatu nyala api dari kejauhan, dan ia berkata kepada keluarganya, sebagaimana disitir dalam QS al Qashash 29, “
Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan."
Kemudian Musa berjalan mendaki bukit Thursina, hingga tiba di tempat di mana tampak api menyala dari sebuah semak-semak. Tiba-tiba terdengar suatu suara dari balik semak terbakar tersebut, yang adalah Firman Allah (wahyu) pertama yang diterimanya, sebagaimana disitir dalam QS Thaha ayat 11–16, "Hai Musa, sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu!! Maka tanggalkanlah kedua terompahmu (sepatu atau alas kakimu), sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). (Yakni,) sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku. Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya (hari kiamat itu), dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa."
Musa dibesarkan oleh Fir’aun, dengan lingkungan yang jelas-jelas musyrik kepada Allah, sejak masih bayi hingga menjelang masa dewasanya, tetapi ia terjaga dari pengaruh semua itu. Bahkan dengan kondisi itu, bibit-bibit kenabian tumbuh subur dalam dirinya untuk melakukan ‘perlawanan’ terhadap semua kemusyrikan tersebut. Apalagi setelah selama sepuluh tahun lamanya Musa menjadi ‘santri’ sekaligus menantu Nabi Syu’aib, jiwa kenabian itu makin mengental pada dirinya. Karena itu, walau munculnya suara dari balik semak terbakar itu tampak mengejutkan, ia dengan segera dapat menguasai diri. Di dalam hati ia menyadari, bahwa inilah pengangkatan dirinya sebagai Nabi sebagaimana Nabi-nabi yang telah diutus sebelumnya, seperti yang pernah diceritakan oleh Nabi Syu’aib, mertuanya.
Musa segera melepas kedua terompahnya sesuai perintah Allah tersebut, dan tunduk tawadhu. Allah berfirman lagi, “Wahai Musa, apa yang ada di tangan kananmu itu?”
Ia berkata, “Ini adalah tongkat saya, saya pergunakan untuk bertelekan (berpegangan) jika sedang berjalan, untuk menggembalakan kambing dan berbagai keperluan lain!!”
Allah berfirman lagi, “Lemparkanlah tongkatmu, ya Musa!!”
Musa melemparkan tongkat itu, yang segera saja menjadi seekor ular besar yang bergerak sangat cepat dan gesit. Secara reflek, ia berlari menjauh dari ular tersebut, tetapi Allah berfirman, “Wahai Musa, janganlah takut!! Datanglah kepada-Ku, dan peganglah ular itu, maka Aku akan mengembalikannya seperti semula!!”
Ia memasukkan tangannya ke mulut ular tersebut, yang segera saja kembali menjadi tongkat. Allah berfirman lagi, “Masukkanlah (kepitkanlah) telapak tangan kananmu di antara ketiak kirimu, kemudian keluarkanlah lagi!!”
Musa melaksanakan perintah tersebut, dan telapak tangan kanannya tampak putih cemerlang, bersinar menyilaukan pandangan mata. Ketika ia mengempitnya kembali, tangannya kembali seperti sediakala. Allah berfirman lagi, “Itulah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Ku yang Aku tunjukkan kepadamu, sekaligus sebagai tanda kerasulanmu. Pergilah engkau (berdakwah) kepada Fir’aun dan orang-orang yang mengikutinya, karena sungguh ia telah melampaui batas, sehingga berani mengaku sebagai tuhan!!”
Nabi Musa menerima tugas tersebut dengan senang hati. Tetapi kemudian ia menyadari berbagai kekurangan dan kelemahannya, karena itu ia berdoa, sebagaimana disitir dalam QS Thaha ayat 25-35 : “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami."
Allah mengabulkan permintaan Nabi Musa tersebut, bahkan menjadikan saudaranya, Harun sebagai Nabi seperti dirinya juga, tidak sekedar sebagai pembantu seperti yang diminta Nabi Musa.
Doa Nabi Musa tersebut banyak sekali manfaatnya bagi kita umat Nabi Muhammad SAW, khususnya pada ayat 25-29 yang berbunyi : “Rabbisy-rakhlii shodrii, wa yassirlii amrii, wakhlul ‘uqdatan min lisaanii, yafqohuu qoulii.” Doa ini bisa dibaca ketika akan berpidato, berdakwah, mengajar atau membawakan suatu acara (sebagai MC). Ketika akan menghadap seorang pimpinan dan pejabat/penguasa atau siapapun, yang kita cenderung takut kepadanya. Ketika menghadapi pemerintah atau penguasa yang lalim/kejam. Ketika akan mengerjakan test atau ujian, baik untuk sekolah atau pekerjaan. Dan beberapa keperluan lainnya.
Untuk lebih memantapkan hati Nabi Musa, Allah menceritakan kembali ‘kenikmatan’ yang telah diberikan-Nya sejak ia dilahirkan. Ketika Allah menyelamatkan dirinya dari rencana jahat Fir’aun membunuh semua bayi laki-laki Bani Israil, dengan jalan mengilhamkan (mewahyukan) kepada ibunya, untuk menghanyutkannya ke sungai Nil. Ketika ditemukan, dipelihara, dan dibesarkan oleh Fir’aun, tetapi tetap dalam kasih sayang ibu dan saudaranya, Maryam. Ketika ia membunuh seorang Qibti, dan hampir dibunuh (diqishash) oleh pasukan Fir’aun, dan Allah menyelamatkannya. Dan akhirnya ia ‘dipertemukan’ dengan Nabi Syu’aib, diambil menantu, tinggal dan belajar bersama beliau selama sepuluh tahun.
Nabi Musa menjadi semakin mantap dan yakin bahwa ‘suara-suara’ itu adalah benar-benar firman Allah, dan pengangkatan dirinya sebagai Nabi dan Rasul adalah suatu kebenaran. Bagaimanapun Nabi Musa pernah tinggal di Mesir selama puluhan tahun, yang hal-hal ghaib adalah sesuatu yang cukup biasa ditemui dan didengarnya. Tukang sihir, tukang tenung dan berbagai macam ahli ‘klenik’ lainnya adalah tokoh-tokoh yang biasa ditemuinya selama ia dalam pemeliharaan bapak angkatnya, Fir’aun. Karena itu sedikit banyak ada juga kekhawatirannya kalau ‘suara-suara’ itu, yakni Firman Allah dari balik semak terbakar, tidak berbeda dengan praktek-praktek klenik yang diketahuinya. Tetapi dengan ‘penjabaran’ Allah tentang jalan kehidupannya yang begitu lengkap, termasuk ketika ia berada di Madyan, kekhawatirannya itu lenyap sama sekali.
Di antara sekian banyak nabi-nabi, hanya beberapa saja yang mempunyai gelar khusus yang ‘disandarkan’ pada nama Allah, yakni Nabi Ibrahim adalah Kholilullah, Nabi Isa adalah Ruhullah, Nabi Muhammad adalah Habibullah, dan tentunya Nabi Musa adalah Kalamullah, karena beliau diajak ‘berbicara’ langsung oleh Allah SWT
Untuk menegaskan kenabian dan tugas risalah yang diberikan kepada Nabi Musa, sekali lagi Allah berfirman kepadanya, seperti disitir dalam QS Thaha 41-44, “(Sesungguhnya) Aku telah memilihmu untuk diri-Ku, pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku!! Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut."
Bagaimanapun juga Nabi Musa masih manusia biasa, yang sedikit banyak masih memiliki rasa takut. Apalagi menghadapi raja besar dan lalim (kejam) semacam Fir’aun dengan kekuatan bala tentaranya yang begitu banyak, ditambah lagi ia mempunyai kesalahan membunuh salah seorang Qibti. Ia mengungkapkan ketakutan dan kekhawatirannya itu, maka Allah berfirman, “Janganlah kalian berdua takut (menghadapi Fir’aun), sesungguhnya Aku bersama kalian berdua, Aku Mendengar dan Melihat!!”
Allah mengajarkan kepada Nabi Musa, bagaimana ia harus menghadapi Fir’aun, dan Allah juga menjanjikan akan menunjukkan tanda-tanda Kebesaran dan Kekuasaan-Nya yang lain kepada Fir’aun, hingga nantinya berjumlah sembilan (QS Al Isra ayat 101), termasuk tongkat dan telapak tangan kanannya yang bersinar. Musa turun dari bukit Thursina dengan tekad dan semangat baru untuk mengemban risalah Allah. Ia memberitahukan secara lengkap kepada keluarganya tentang apa yang telah dialaminya, termasuk pengangkatan Harun sebagai nabi mendampingi dirinya. Setelah itu mereka meneruskan perjalanan ke Mesir.
Tiba di Mesir, Nabi Musa dan Nabi Harun langsung menemui Fir’aun, mereka memperkenalkan diri sebagai utusan Allah Tuhan semesta Alam, dan menyeru atau mendakwahi Fir’aun untuk menghentikan tindak kemusyrikannya kepada Allah dan penyiksaan kepada kaum Bani Israil. Fir’aun menanggapinya dengan berkata, “Siapakah Tuhan kalian berdua itu?”
Nabi Musa dan Nabi Harun menjelaskan risalah islamiah yang diembannya. Sempat terjadi perdebatan antara Musa dan Fir’aun, sebagaimana disitir dalam QS Thaha 50-55. Setelah itu Fir’aun berkata, “Jika memang benar engkau membawa bukti yang memperkuat pengakuan (kenabian)mu, tunjukkanlah kepadaku!!”
Musa menunjukkan tongkatnya yang bisa menjelma menjadi ular besar, dan juga tangan kanannya yang bisa bercahaya cemerlang. Fir’aun dan para punggawanya berkata, “Sungguh Musa ini seorang ahli sihir yang ulung (sangat pandai)!!”
Tentu saja mereka melakukan penilaian dan mengambil kesimpulan sebatas dengan apa yang mereka ketahui, dan mu’jizat yang ditunjukkan Nabi Musa mereka anggap tidak banyak berbeda dengan ‘kegaiban-kegaiban’ yang ditunjukkan oleh para ahli sihir yang tersebar luas di bumi Mesir. Mereka bermusyawarah sebentar, kemudian memutuskan untuk mengadakan ‘perang-tanding’ antara Musa dengan ahli-ahli sihir yang tersohor Mesir, pada waktu yang ditentukan.
Nabi Musa menerima tantangan tersebut, bahkan menentukan waktunya, yakni pada hari raya penduduk Mesir, dan sekaligus mengundang kehadiran mereka semua. Fir’aun menyetujui permintaan Nabi Musa itu. Tentu saja itu adalah strategi Nabi Musa untuk lebih mudah memperkenalkan dan menunjukkan dakwah Islamiah kepada masyarakat Mesir, khususnya Bani Israil yang tinggal di sana.
Dalam masa menunggu ‘perang tanding’ itu, Fir’aun berkata kepada pembesar-pembesarnya, sebagaimana disitir dalam QS al Qashash 38, “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah (buatlah) hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhannya Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta."
Haman melaksanakan perintah Fir’aun tersebut, dan ketika bangunan tinggi telah selesai dan Fir’aun naik hingga puncaknya. Ia memandang berkeliling untuk mencari dan menemukan ‘tuhan’ yang dimaksudkannya sebagai Tuhannya Musa, dan tentu saja ia tidak menemukan apa-apa. Hal itu makin membuatnya sombong dan berteguh bahwa ia adalah tuhan yang sebenarnya bagi masyarakat Mesir.
Ketika tiba pada waktunya hari raya tersebut, masyarakat Mesir berkumpul di suatu lapangan luas. Ratusan atau mungkin ribuan ahli sihir telah siap dengan peralatan sihir mereka, berhadapan langsung dengan Nabi Musa dan Nabi Harun. Fir’aun bersama para pembesarnya duduk di atas tribun yang telah dipersiapkan untuk mereka. Para ahli sihir itu berkata, “Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan terlebih dahulu, atau kami yang akan melemparkan??”
Nabi Musa mempersilahkan mereka melakukan terlebih dahulu, dan begitu mereka melepaskan tali-tali, tongkat-tongkat, dan semua peralatan sihir mereka, muncullah ribuan ular yang menjalar dan bergerak cepat menuju Nabi Musa dan Nabi Harun. Masyarakat Mesir sempat ketakutan melihat pemandangan tersebut, tetapi Nabi Musa berdiri dengan tenang, kemudian beliau melemparkan tongkat beliau, yang seketika menjadi ular yang jauh lebih besar. Seketika ular mu’jizat tersebut mencaplok habis semua ular penjelmaan sihir yang berjumlah ribuan itu, hanya dalam waktu yang sangat singkat.
Para ahli sihir itu, yang mereka sangat ‘profesional dan pakar’ di bidangnya, segera saja mengetahui bahwa apa yang ditunjukkan Nabi Musa itu bukanlah sihir seperti yang mereka lakukan, tetapi benar-benar tanda-tanda kekuasaan Allah yang Maha Besar. Hampir semua dari mereka tunduk bersujud dan berkata, “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, yaitu Tuhannya Musa dan Harun!!”
Fir’aun sangat marah dengan perkembangan yang sungguh tidak diduganya itu. Apalagi sebagian masyarakat Mesir, khususnya kaum Bani Israil yang tertindas, segera mengikuti jejak para ahli sihir tersebut mempercayai Nabi Musa, walau mungkin mereka tidak berani secara ekstrim bersujud atau menunjukkan keimanannya pada pemerintahan lalim Fir’aun.
Sebelumnya Fir’aun telah menjanjikan akan memberi hadiah besar dan menjadikan para ahli sihir itu sebagai orang-orang terdekatnya jika berhasil mengalahkan Nabi Musa. Tetapi melihat perkembangan situasi yang seperti itu, ia berkata, “Apakah kamu beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya dari sini. Sungguh aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya."
Ketika keimanan telah merasuk begitu dalam, ancaman seberat apapun, bahkan kematian dengan cara yang paling keji, tidak akan mampu melunturkannya. Begitu pula yang terjadi pada para ‘mantan’ ahli sihir yang telah menjadi muslim tersebut. Dengan tegas mereka berkata, ”Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali. Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami."
Setelah itu mereka mengangkat tangannya dan berdoa, “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)."
Walaupun telah mengancam seperti itu, ternyata Fir’aun tidak berani mewujudkan ancamannya begitu saja. Sedikit banyak mereka merasa ngeri dengan kemampuan sihir mereka, apalagi ditambah dengan ‘sihir’ Nabi Musa. Kaum musyrik itu tidak sempat berfikir dan menganalisa, bahwa begitu (mantan) ahli-ahli sihir itu beriman kepada Allah, tentulah mereka akan segera meninggalkan praktek-praktek kesyirikan yang pernah mereka lakukan. Begitulah memang ‘cara’ Allah menyelamatkan hamba-hamba-Nya, terkadang melalui jalan yang tidak terduga-duga.